Mengenal Anxiety (Gangguan Kecemasan) dan Jenis-Jenisnya

 



Anxiety disorder ditandai dengan kecemasan jangka panjang yang ganggu aktivitas.

Anxiety adalah merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang bisa memengaruhi aspek kehidupan pengidapnya.


Setiap orang pasti pernah merasakan cemas, seperti saat menghadapi ujian, berbicara di depan umum, atau menunggu hasil pemeriksaan medis. Namun, bagi pengidap anxiety, rasa cemas ini terjadi terus menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.


Alhasil, anxiety bisa memengaruhi kehidupan pengidapnya, mulai dari pekerjaan, hubungan sosial, hingga kesehatan fisik. Mari pahami lebih dalam tentang anxiety supaya kamu lebih peka terhadap kondisi ini. 


Apa Itu Anxiety atau Gangguan Kecemasan?


Anxiety atau kecemasan sebenarnya adalah respons alami tubuh terhadap stres. Perasaan ini meliputi khawatir, takut, atau ketidaknyamanan yang muncul sebagai respons terhadap situasi atau peristiwa yang penuh tekanan. 


Pada dasarnya, kecemasan merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang dapat membantu seseorang untuk tetap waspada dan fokus dalam situasi yang berbahaya atau menantang. Namun, ketika kecemasan berlangsung secara terus-menerus, berlebihan, atau tidak berhubungan dengan situasi yang sebenarnya, kondisi ini dikategorikan sebagai gangguan kecemasan. 


Gangguan kecemasan atau anxiety disorder adalah salah satu bentuk gangguan kesehatan mental yang cukup umum.Melansir dari National Institute of Mental Health (NIMH), gangguan kecemasan dapat mempengaruhi siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.


Kondisi ini umumnya membutuhkan perawatan khusus agar tidak semakin parah.Mau tahu apa saja pilihan obat penenang resep dokter? Baca di sini: Ini Berbagai Jenis Obat Penenang dan Kegunaannya


Gejala Anxiety


Gejala kecemasan bisa bervariasi tergantung jenis dan individu itu sendiri. Meski begitu, terdapat beberapa gejala umum yang paling sering muncul. Gejala bisa dalam bentuk kondisi fisik maupun emosional. Berikut adalah beberapa gejala anxiety yang paling umum:


1. Gejala fisik

  • Detak jantung yang cepat atau berdebar-debar (palpitasi).
  • Keringat berlebihan atau telapak tangan yang selalu basah.
  • Tremor atau gemetaran.
  • Sesak napas atau perasaan tercekik.
  • Mual, sakit perut, atau gangguan pencernaan lainnya.
  • Pusing atau lemah.
  • Otot tegang atau sakit kepala.


2. Gejala emosional

  • Rasa takut yang berlebihan atau perasaan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
  • Sulit untuk fokus atau berkonsentrasi.
  • Iritabilitas atau mudah marah.
  • Kelelahan yang tidak bisa dijelaskan.
  • Insomnia atau kesulitan tidur karena pikiran yang selalu gelisah.


Gejala-gejala tersebut dapat bervariasi dari ringan hingga berat. Sering kali, pengidapnya juga tidak menyadari kalau gejala yang mereka alami akibat gangguan kecemasan.


Perbedaan Anxiety Normal dengan Anxiety Abnormal

Penting juga untuk mengetahui perbedaan antara kecemasan yang normal dan kecemasan yang berbahaya. 


Kecemasan normal adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang justru membantumu tetap waspada terhadap situasi yang menantang atau berbahaya. Sebaliknya, anxiety disorder biasanya lebih intens, bertahan lebih lama, dan sering kali muncul tanpa alasan yang jelas.





Berikut adalah beberapa ciri yang membedakan kecemasan normal dengan kecemasan yang tidak normal:

1. Kecemasan normal

  • Terjadi sesekali dan berhubungan dengan situasi spesifik, seperti ujian atau wawancara kerja.
  • Tidak mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan.
  • Cepat hilang begitu situasi penyebab kecemasan telah berlalu.


2. Kecemasan yang tidak normal

  • Terjadi terus-menerus, bahkan tanpa adanya pemicu yang jelas.
  • Mengganggu kemampuan untuk menjalani kehidupan sehari-hari, seperti bekerja atau bersosialisasi.
  • Disertai dengan serangan panik atau ketakutan yang berlebihan.
  • Menyebabkan pengidapnya menghindari situasi atau aktivitas tertentu.

Jika kecemasan yang dialami mulai mengganggu kualitas hidup atau berlangsung dalam jangka waktu yang lama, sebaiknya segera cari bantuan dari profesional, seperi psikolog atau psikiater. 


Cara Mengatasi Anxiety

Ada berbagai cara untuk mengatasi gangguan kecemasan, mulai dari teknik relaksasi hingga perawatan medis.Berikut adalah beberapa cara yang bisa membantu:

1. Terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy)

CBT adalah terapi yang efektif untuk berbagai masalah kesehatan mental, termasuk anxiety

Terapi ini membantu pengidapnya untuk mengenali pola pikir yang tidak rasional dan menggantinya dengan pola pikir yang lebih positif serta realistis.

2. Obat-obatan

Selain terapi, dokter biasanya juga meresepkan obat-obatan seperti antidepresan atau obat penenang untuk membantu mengatasi gejala kecemasan.

Namun, penggunaan obat harus diawasi dengan ketat oleh dokter untuk menghindari ketergantungan.

3. Relaksasi dan meditasi

Teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, atau yoga bisa membantu mengurangi gejala fisik kecemasan dan menenangkan pikiran.

Cobalah mulai berlatih meditasi atau teknik relaksasi dari gerakan yang mudah terlebih dahulu.

 4. Olahraga teratur

Aktivitas fisik telah terbukti dapat mengurangi kecemasan dengan melepaskan endorfin, zat kimia otak yang dapat meningkatkan suasana hati.

Tak perlu berolahraga berat, pilih latihan yang ringan terlebih dahulu untuk pembiasaan diri.

5. Hindari kafein dan alkohol

Kafein dan alkohol dapat memperburuk gejala kecemasan. Jadi, kamu juga perlu mengurangi atau menghindari konsumsi kedua zat ini untuk mencegah episode kecemasan.

6. Minta dukungan sosial

Jangan ragu untuk meminta dukungan sosial pada orang terdekat. Kamu bisa berbicara dengan teman, keluarga, atau bergabung dengan kelompok dukungan.

Cara ini dapat memberikan rasa nyaman dan mengurangi beban mental.


Studi Mengenai Penanganan Anxiety

Menurut studi dalam Journal of Contemporary Psychotherapyterdapat dua terapi untuk mengatasi kondisi ini, yaitu terapi perilaku kognitif dan terapi perilaku dialektis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua terapi tersebut efektif dalam mengurangi gejala kecemasan, depresi, dan kesulitan dalam mengatur emosi, serta meningkatkan kesadaran diri (mindfulness).

Namun, terapi perilaku kognitif lebih efektif dalam mengurangi gejala depresi dan kecemasan. Sementara itu, terapi perilaku dialektis lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan mengatur emosi dan kesadaran diri.

Secara sederhana, penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun terapi perilaku kognitif lebih efektif dalam mengurangi gejala kecemasan dan depresi, terapi perilaku dialektis lebih unggul dalam membantu pengidap untuk lebih memahami dan mengendalikan emosi mereka.


https://www.halodoc.com/


0/Post a Comment/Comments

Bagaimana komentar anda ? yuk beri komentar

Ads1
Ads2
Disalin! Disalin!